jump to navigation

Inilah 10 Koleksi Kata-Kata Mutiara Motivasi yang Membuat Anda Semangat Setiap Hari November 13, 2009

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment

 Ada kalanya sewaktu bangun di pagi hari, tubuh rasanya malas-malasan, enggan bangun untuk mulai beraktivitas, inginnya bersembunyi di bawah selimut saja. Rasa malas semacam ini mungkin nyaman, namun tidak memberikan sesuatu bagi anda agar menjadi orang yang lebih baik.

Karenanya saya ingin berbagi sesuatu buat anda semua. Inilah 10 kumpulan kata-kata mutiara motivasi penggugah semangat dan pendorong ACTION. Sepuluh kumpulan kalimat mutiara dan motivasi ini sangat baik anda simpan dan anda baca secara rutin (bisa setiap bangun pagi, ketika siang hari, sore hari, atau sebelum tidur), sesuai makna dari masing-masing kalimat. Sebagai contoh, seperti kalimat nomor satu di bawah ini, sangat baik dibaca tiap bangun pagi.

Tanpa perlu berpanjang lebar lebar lagi, berikut 10 koleksi kata kata motivasi emas penggugah semangat dan pendorong ACTION untuk hidup menjadi lebih baik.

  1. Pagi ini, saya bangun dalam keadaan sangat baik. Saya bangun dengan hati yang senang. Seperti mentari pagi yang menjalankan tugasnya menyinari semesta, saya pun bangun dan segera menjalankan tugas dan aktivitas saya hari ini. Saya akan melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya.
  2. Saya adalah orang yang penuh motivasi. Setiap hari motivasi saya makin berkobar. Saya sangat YAKIN dan PERCAYA kalau apa yang saya impikan nanti bakal menjadi kenyataan. Saya percaya itu. Keyakinan ini bahkan sudah mengakar ke alam bawah sadar saya. Setiap kali saya merasa lemas, alam bawah sadar saya mengingatkan dan memberi motivasi kalau “saya bisa!”, bahwa “saya adalah seorang pemenang.”
  3. Ketika saya berbicara, suara saya terdengar jelas, kuat, dan percaya diri. Saya sekarang percaya diri dalam segala situasi. Sebab saya adalah pemimpin yang memimpin dengan penuh kepercayaan diri.
  4. Saya sekarang hidup dipenuhi keyakinan, kepercayaan dan kepastian. Saya sekarang orang yang percaya diri dan tegas. Dan hari ini saya menggunakan 100 % kapasitas diri saya. Tiap berjalan dan bergerak, saya menjalankannya dengan penuh keyakinan, namun tetap tenang. Saya sekarang adalah sosok yang kuat, mengesankan, dan lebih menarik setiap harinya. Kepercayaan diri dan kemampuan saya terus meningkat secara drastis tanpa henti.
  5. Setiap hari saya bertambah baik dan makin bertambah baik. Saya menetapkan tujuan yang jelas dan membangun motivasi kuat untuk meraih apa yang saya inginkan. Sekarang segalanya menjadi jelas. Apa yang saya bayangkan dulu, kini kian dekat menjadi kenyataan. Lebih dekat dan makin dekat. Dan saya percaya SAYA BISA mendapatkannya. Tiap saat saya menerima banyak sekali anugerah dan kebaikan dalam hidup ini. Seluruh tubuh saya sekarang jadi tahu, apa misi dan tujuan saya hidup di dunia ini.
  6. Saya percaya pada keyakinan kuat yang tertanam dalam diri saya. Berkat motivasi yang bertambah kuat setiap saat. Apapun yang saya percaya bisa dapatkan, saya yakin bisa saya dapatkan. Saya menciptakan “keberuntungan” saya tiap hari. Saya mencapai tujuan-tujuan saya dengan penuh riang gembira. Saya visualisasikan apa yang saya inginkan dan saya melakukan ACTION seperti dalam visualisasi tersebut. Dengan keyakinan ini saya bisa mewujudkan kenyataan apapun yang saya mau.
  7. Semua yang saya butuhkan ada dalam diri saya sekarang. Saya adalah sosok yang bersahabat, terbuka, dan percaya diri. Saya juga pemberani dan tegas. Dengan semua ini saya mampu mengubah apapun dalam hidup saya seperti yang saya inginkan. Dan saya siap menerima tanggung jawab untuk perubahan hidup yang saya akan alami nanti.
  8. Saat saya berbicara dengan orang lain, saya menatap mata lawan bicara saya dan berbicara dengan percaya diri. Saya buat momen itu menjadi begitu menyenangkan. Dalam tiap gerakan tubuh yang saya lakukan, saya melakukannya dengan tenang dan penuh percaya diri. Setiap kali kelopak mata saya tertutup dan saya menghirup udara dalam-dalam, kepercayaan diri saya bertambah kuat dan memenuhi seluruh bagian-bagian dalam tubuh saya. Saya melihat diri saya sekarang adalah sosok penuh percaya diri, punya keyakinan, dan berani mengambil tindakan.
  9. Setiap hari, energi percaya diri dan rasa antusias saya meningkat drastis. Sebab saya punya komitmen untuk terus meningkatkan kemampuan diri saya setiap hari. Apa yang saya bayangkan bisa saya lakukan, pasti saya bisa lakukan. Dan saya melakukannya dengan konsisten dan penuh keberanian.
  10. Ekspresi wajah saya saat ini menggambarkan rasa yakin dan percaya diri. Sekarang saya mengalami masa-masa paling menyenangkan dalam hidup saya. Dan momen ini menginspirasi saya untuk lebih percaya diri dan memiliki harga diri. Saya berbicara pada diri saya dan orang-orang di sekitar saya dengan keyakinan. Saya sekarang mengontrol seluruh diri saya. Perkataan saya, pikiran saya, dan perasaan saya, semuanya ada dalam kendali saya. Rasa percaya dalam diri saya ini bukan hanya menginsiprasi saya sendiri, namun juga menginspirasi setiap orang yang saya temui.

Simpan koleksi kata-kata mutiara dan kalimat motivasi di atas. Anda pilih kata-kata yang anda rasa paling sesuai kebutuhan anda. Saran saya, sebaiknya anda baca rutin kata kata motivasi pilihan anda tersebut. Bisa di waktu pagi hari selepas bangun tidur, siang hari saat beristirahat, sore hari selepas mandi, atau malam hari sebelum tidur.

Lihat perbedaannya dalam beberapa hari ke depan. Anda akan temukan diri anda sebagai orang yang berbeda. Anda menjadi menjadi orang yang lebih baik dibanding ketika pertama kali menemukan artikel ini. Buktikan!

Salam ACTION!

 

Joko Susilo

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir batin September 30, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment
Saudaraku seiman….
Andai jemari tak smpt berjabat,andai raga tak dpt b’tatap
seiring beduk yg mgema,sruan takbir yg berkumandang
kuhaturkan salam menyambut hari raya idul fitri
jikak ada kata serta khilafku membekas lara mhn maaf lahir batin.
SELAMAT IDUL FITRI

Mawar berseri dipagi hari
pancaran putihnya menyapa nurani
sms dikirim pengganti diri
SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR BATHIN

Sebelum Ramadhan pergi
Sebelum Idul fitri datang
Sebelum operator sibuk
Sebelum sms pending mulu
Sebelum pulsa habis
Dari hati ngucapin MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan ia keruh
Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung
Jika HATI seindah BULAN, hiasi ia dengan IMAN.
Mohon Maaf lahir dan batin

Menyambung kasih, merajut cinta, beralas ikhlas, beratap doa.
Semasa hidup bersimbah khilaf & dosa, berharap dibasuh maaf.
Selamat Idul Fitri

Melati semerbak harum mewangi
Sebagai penghias di hari fitri
SMS ini hadir pengganti diri
Ulurkan tangan silaturahmi
Selamat Idul Fitri

Sebelas bulan kita kejar dunia
kita umbar napsu angkara
Sebulan penuh kita gelar puasa
kita bakar segala dosa
Sebelas bulan kita sebar dengki dan prasangka
Sebulan penuh kita tebar kasih sayang sesama
Dua belas bulan kita berinteraksi penuh salah dan khilaf
Di hari suci nan fitri ini, kita cuci hati, kita buka pintu maaf
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.”

walopun operator sibuk n’ sms pending terus,
kami sekeluarga tetap kekeuh mengucapkan
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin

Bila kata merangkai dusta..
Bila langkah membekas lara…
Bila hati penuh prasangka…
Dan bila ada langkah yang menoreh luka.
Mohon bukakan pintu maaf…
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Fitrah sejati adalah meng-Akbarkan Allah..
Dan Syariat-Nya di alam jiwa..
Di dunia nyata, dalam segala gerak..
Di sepanjang nafas dan langkah..
Semoga seperti itulah diri kita di hari kemenangan ini..
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Untuk lisan yg tak terjaga
untuk hati yg berprasangka
untuk janji yg tak ditepati
segala kekhilafan. minal aidin walfaizin mhn maaf lahir bathin

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah ada
Tuk khilaf yg sempat terucap
Pintu maaf selalu kuharap
Met Idul Fitri

Walaupun Hati gak sebening XL dan secerah MENTARI.
Banyak khilaf yang buat FREN kecewa
kuminta SIMPATI-mu untuk BEBAS kan dari ROAMING dosa dan kita semua hanya bisa mengangkat JEMPOL kepadaNya yang selalu membuat kita HOKI
dalam mencari kartu AS selama kita hidup karena kita harus FLEXIbel untuk menerima semua pemberianNYA dan menjalani MATRIX kehidupan ini…
dan semoga amal kita tidak ESIA-ESIA…Mohon Maaf Lahir Bathin.

Satukan tangan,satukan hati
itulah indahnya silaturahmi
Di hari kemenangan kita padukan
keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

Andai jemari tak kuasa berjabat
setidaknya kata msh dpt terungkap
Dgn sgl kerendahan hati,
tulus hati memohon maaf SELAMAT IDUL FITRI MAAF LAHIR& BATHIN.

Beralas iklas, beratap doa, hidup ini bersimbah khilaf.
Berharap diri dibasuh maaf, Selamat Hari Raya Iedul Fitri
Taqoballahu Minna Waminkum Taqoballahu Yaa Kariim
Minal Aidzin Wal Faidzin
Mohon maaf lahir & batin

Fitrah kemanusiaan selalu gandrung akan kebenaran. Semoga kita selalu
berjalan di atas fitrah dalam mengatasi krisis bangsa. Selamat Idul
Fitri, maaf lahir dan batin.

When it’s black turn white; when it’s dark turn light; when a mistaken
turn forgiveness, eagle mengucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf
lahir dan batin.

Walaupun bukan yang pertama, harapannya kami yang tertulus dalam mengucapkan
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Tiada pemberian yang terindah selain kata maaf. Tiada perbuatan yang
termulia selain memaafkan. Selamat Idul Fitri . Mohon
maaf lahir dan batin.

Kesempurnaan hanya milik Allah. Kesalahan dan kekhilafan adalah milik
kita semua. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

I met Iman, Taqwa, Patience, Peace, Joy, Love, Health & Wealth today.
They need a permanent place to stay. I gave them your address. Hope they
arrived safely to celebrate Idul Fitri with you. May Allah bless you
and family.

Setelah Ramadhan pergi, setelah Idul Fitri datang, seusai network busy,
setelah sms pending mulu, pulsa habis diisi lagi. Hingga terlambat
ucapkan met lebaran.

Ternyata untuk mencapai kemenangan yang hakiki adalah saat dimana
sapa dan maafmu yang penuh keikhlasan mengiringi proses introspeksi
demi menggapai fitrah yang sarat keberkahan.

Bila kata jadi luka, bila ulah jadi lara, di hari yang fitri ini
izinkan saya memohon maaf dari hati yang paling dalam.

Andai tangan tak sempat berjabat, setidaknya seuntai kata masih dapat
terungkap. Mohon maaf atas segala khilaf. Selamat Idul Fitri , mohon maaf lahir dan batin.

Berkat kesadaran dan kesabaran, sampailah kita pada Hari Kemenangan.
Berkat ketulusan dan keikhlasan, kita saling bermaafan. Happy Iedul
Fitri. Bila ada langkah membekas lara, ada kata merangkai dusta,
ada sikap menoreh luka, di hari fitri ini tulus hati memohon maaf.

Putih kata, putih hati, lapangkan jiwa tuk sambut hari nan fitri, songsong
hari depan gemilang dengan tautan erat jemari. Mohon maaf lahir & batin

The time has come for every soul to purify heart for every man to begin
a new life & for us to let all mistakes forgiven & forgotten, amien.
Happy Idul Fitri.

Ketika bumi menjadi bayang-bayang surga, kedamaian dirasakan oleh semua
orang yang memiliki kebersihan jiwa dan kebeningan hati. Ketika meminta
maaf dan saling memaafkan tulus berasal dari kalbu iklhas.
Semoga fitri ini tetap terjaga sampai Ramadhan tahun depan.

Seiring takbir, tahlil dan tahmid menggema, izinkan kedua tangan
bersimpuh memohon maaf. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.

Ya Allah, Berkahilah saudaraku yang baik ini. Limpahkan rizkimu padanya.
Bahagiakanlah dia dan keluarganya. Mudahkanlah semua urusannya.
Terimalah ibadahnya. Amien.

Sruan Takbir m’iringi brlalux bln pnuh Berkah & Ampunan Kita pun kembal Fitri.
Tp Dosa & Khilaf hny bs trhps dg Maaf.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR BATIN

Umat butuh dibangunkan lampu2 kebangkitan harus dinyalakan.
Dengan “kesadaran” yang kita tekadkan di bulan suci
semoga benar2 menjadi ruh baru penyusun batu peradaban tertinggi…

Melihat segalanya dengan hati yang bersih, tanpa mengharap pujian manusia2.
semoga menjadi Ramadhan yang berkah,& berdo’amengharap istiqamah di jalan-NYA.
Taqabalallahu Minna Waminkum…

“ Saatnya istirahat dalam pemuasan nafsu duniawi
Saatnya membersihkan jiwa yang berjelaga
Saatnya mensyukuri indahnya kemurahanNya
Saatnya memahami makna pensucian diri
bersama kita leburkan kekhilafan, dengan shaum mempertemukan kita dengan Keagungan Lailatul Qadar
dan kita semua menjadi pilihanNya untuk dikabulkan do’a – do’a dan kembali menjadi fitrah”

Tiada hari seindah Jumaat, tiada kata seindah zikir, tiada ibadah seindah solat,
tiada bulan seindah Ramadhan dan tiada hari dinanti yaitu hari nan fitri. Salam Ramadhan al mubarak dan Selamat Idul Fitri”

10 Nasihat Ibnul Qayyim Untuk Bersabar Agustus 21, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment
10 Nasihat Ibnul Qayyim Untuk Bersabar Agar Tidak Terjerumus Dalam Lembah Maksiat
Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia. Amma ba’du.

Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:

Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.

Kedua, merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…

Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.

Apabila engkau berlimpah nikmat

maka jagalah, karena maksiat

akan membuat nikmat hilang dan lenyap

Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.

Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya

Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.

Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…

Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…

Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.

Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.

***

Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah, www.ar.islamhouse.com

Rahasia Senyum Nabi Muhammad SAW Juni 13, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment

Rahasia Senyum Muhammad

Oleh: Ulis Tofa, Lc



dakwatuna.com - Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad saw., Anda tidak akan pernah berhenti kagum akan kemuliaan dan kebesaran pribadi Muhammad saw.

Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya, dan sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.

Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad saw. dalam dakwah dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.

Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok pengalang di antara anak manusia!. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman!

Itulah senyuman yang direkam Al Qur’an tentang kisah Nabi Sulaiman as, ketika Ia berkata kepada seekor semut,

“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. An Naml:19

Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad saw., dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.

فهذا جرير -رضي الله عنه- يقول -كما في الصحيحين-: ما حَجَبني رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- منذُ أسملتُ، ولا رآني إلا تَبَسَّم في وجهي.

Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.”

Suatu ketika Muhammad saw didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”

Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ituk serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka.

يقول كعب -رضي الله عنه- بعد أن ذكر اعتذار المنافقين وحلفهم الكاذب: فَجِئْتُهُ فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الْمُغْضَبِ، ثُمَّ قَالَ «تَعَالَ» . فَجِئْتُ أَمْشِي حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ.

Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka: “Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.”

Suatu ketika Muhammad melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka.

Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci ini, sampai akhir detik-detik hayat beliau.

- يقول أنس -كما في الصحيحين-: بينما الْمُسْلِمُونَ في صَلاَةِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ الإِثْنَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بَهُمْ لَمْ يَفْجَأْهُمْ إِلاَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ كَشَفَ سِتْرَ حُجْرَةِ عَائِشَةَ، فَنَظَرَ إِلَيْهِمْ وَهُمْ فِي صُفُوفِ الصَّلاَةِ. ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ!

Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!”

Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!

Menyentuh Hati

Muhammad saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau saw. mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan, beliau bersabda,

فقال: (وتبسمك في وجه أخيك صدقة) رواه الترمذي وصححه ابن حبان.

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam sahihnya.

Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau langsung. Namun Anda masih banyak melihat sebagaian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya.

Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi muhammad saw.!

Ya, kadang Anda melewati jam-jam Anda dengan dirundung duka, atau disibukkan beragam pekerjaan, akan tetapi Anda selalu bermuka masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah, maka demi Allah, ini adalah perilaku keras hati, yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.

Pengaruh Senyum

Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyum mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkan boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah.

Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat dampak besar dari seuntai senyuman dan sangat besar pengaruhnya.

Dil Karanji dalam bukunya yang terkenal, “Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia” menceritakan,

“Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”

Ia melanjutkan, “Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, “Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- terhadap saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.”

Kegembiraan meluap ketika Karanji menambahkan, “Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, akan tetapi membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”

Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada Allah swt.- lewat senyuman dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, yaitu dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.

Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman ini, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri dan dengan bermuka masam ia telah mengharamkan menikmati dunia ini. Bagi orang yang menebar senyum selamanya akan senang dan gembira. Allahu a’lam

 

Kapan Saatnya Kita Bicara Maret 3, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment

Kapan Saatnya Kita Bicara

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Ketahuilah, sebelum berkata-kata, sesungguhnya kata-kata itu tawanan kita. Akan tetapi, sesudah terlontar dari lisan, justru kitalah yang ditawan oleh kata-kata sendiri. Buktinya, betapa banyak orang yang sengsara, menanggung malu, terbebani batinnya, bahkan membuat nyawanya melayang gara-gara kata-kata salah ucap, yang keluar dari mulutnya sendiri. Begitu banyak contoh nyata dalam kejadian kesehari-hari yang bisa membuktikan semua ini.

Mungkin suatu ketika kita baca di koran berita tentang beberapa pelajar SMA yang terlibat pergaulan bebas dengan sesama teman sebayanya. Biasanya mulut ini begitu gatal untuk segera berkomentar, “Mereka sebenarnya adalah korban-korban dari ketidak becusan para orang tuanya dalam mendidik anak-anaknya sendiri.” Atau, kadang-kadang ketika berkumpul bersama teman-teman, tidak bisa tidak, kita sering dengan sadar dan bahkan dinikmati, terjebak dalam perbuatan ghibah, mengumbar-umbar aib dan keburukan orang lain, teman, atau bahkan beberapa sikap dan perilaku orang tua sendiri yang dalam penilaian hawa nafsu kita, tidak kita sukai.

Nah, bila kita acap atau kerap kali senang menggelincirkan lisan ini ke dalam perbuatan-perbuatan demikian, maka pertanyaan yang harus segera diajukan terhadap diri sendiri adalah, mestikah saya berbicara? Haruskah saya mengomentari masalah ini? Mengapa saya harus ikut-ikutan memberikan penilaian, padahal kita sendiri mungkin tidak tahu permasalahan yang sebenarnya?

Subhanallah! Siapa pun yang ingin memiliki lisan yang bermutu serta kata-kata yang mengandung kekuatan dahsyat untuk mengubah orang lain menjadi lebih baik, satu hal yang harus direnungkan, yakni bahwa kekuatan terbesar dari kata-kata kita adalah harus membuat orang senantiasa mendapatkan manfaat dari apa pun yang kita ucapkan.

Kalau hanya sekadar berbicara, padahal kita sendiri tidak tahu akan membawa manfaat atau tidak maka sebaiknya diam saja. “Falyaqul khairan aw liyaskut,” demikian sabda Rasulullah saw. Hendaklah berkata yang baik atau diam! Berkata itu bagus dan boleh-boleh saja, namun diam itu jauh lebih bagus kalau toh kata-kata yang kita ucapkan akan tidak membawa manfaat.

Kalaupun kita memandang perlu untuk berkata-kata, maka sebaiknya berikan yang terbaik kepada orang yang mendengarkannya kata-kata yang paling indah, paling tulus, paling bersih dari segala niat dan motivasi yang tidak lurus.

Sungguh, Allah Azza wa Jalla adalah Zat Maha Pembolak-balik hati manusia. Sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk membalikkan hati manusia seketika, sehingga orang pun mungkin akan menyadari kesehari-hariannya sekiranya ia berbuat keliru. Dan yang akan jauh lebih mengesankan lagi adalah bila kata-kata yang kita ucapkan menjadi jalan turunnya hidayah dan taufik-Nya ke dalam hati orang lain. Masya Allah, Dia pasti tidak akan pernah lalai untuk mencatat pahala yang teramat luar biasa bagi kita, tanpa mengurangi pahala yang diberikan-Nya kepada orang tersebut.

Karenanya, usahakanlah kata-kata yang keluar dari lisan ini kita kemas sedemikian rupa, sehingga membawa manfaat dan maslahat baik bagi diri sendiri maupun bagi jalan hidup serta tumbuhnya motivasi, kehendak, ataupun tekad seseorang.

Hanya empat hal dari kata-kata yang paling tinggi nilai dan mutunya, yang seyogianya keluar dari lisan kita. Pertama, ketika mendapat karunia nikmat, suruhlah lisan ini banyak bersyukur kepada Allah. Kedua, ketika ditimpa musibah, segera suruh mulut ini bersabar dengan mengucap inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun. Ketiga, ketika mendapat taufik dari Allah berupa kemamapuan beribadah yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan orang lain, suruh bunyi pula, yakini bahwa semua kemampuan ibadah kita adalah semata-mata berkat karunia dari Allah Azza wa Jalla. Terakhir, ketika kita tergelincir berbuat dosa, lekas-lekas suruh lisan ini beristigfar memohon ampunan kepada Allah. Dan selebihnya adalah sikap hati-hati setiap kali lisan kita hendak berkata-kata.

Hendaknya kita tidak membiarkan mulut ini sembarang berbunyi. Daripada berakibat sengsara, lebih baik menahan diri. Sebab, jangankan menyampaikan nasihat, bukankah untuk bertanya saja dalam ajaran Islam demikian tinggi adabnya.

Misalnya, terhadap seseorang yang kita tahu suka melaksanakan saum sunnah, kita bertanya, “Mas, Anda sedang saum?” Padahal di sekelilingnya sedang banyak orang. Ini kan pertanyaan yang berat. Betapa tidak? Kalau orang tersebut menjawab, “Ya, saya saum,” hatinya mungkin bisa tergores-gores karena kekhawatirannya berbuat riya. Kalau ia menjawab tidak saum, berarti dusta dan itu dosa sekaligus bisa menghilangkan pahala saum-nya. Kalau memilih diam saja, bisa-bisa dianggap sombong. Demikian pula kalau hendak berdiplomasi saja, maka minimal ia akan kerepotan untuk mencari kata-kata yang tepat. Ini berarti pertanyaan kita membebani batin orang dan sekaligus mubazir.

Ada seorang wanita yang bertubuh gemuk, kita tanya, “Berat badan Mbak berapa kilo?” Ah, buat apa bertanya semacam ini, karena pasti akan membebani perasaannya?

Atau, mendapati seorang teman yang orang tuanya ditimpa musibah bercerai, padahal teman tersebut sangat menutup-nutupinya, eh kita malah menanyainya, “Oh, sudah bercerai ya? Kapan bercerainya? Mengapa bercerai?” Untuk apa pertanyaan ini? Ini kata-kata yang mempersulit orang lain kendatipun kenyataannya memang demikian.

Oleh sebab itu, tidak heran kalau para ulama dan orang-orang yang saleh serta berkedudukan di sisi Allah, sangat hemat dengan kata-kata. Kendatipun, mungkin ilmunya sangat luas, pemahamannya begitu dalam dan jembar, hafal seluruh surat Alquran dan ribuan hadis Nabi, telah menyusun berpuluh-puluh kitab yang monumental, ibadahnya begitu dahsyat, sementara akhlaknya pun demikian cemerlang.

Semua itu karena mereka sangat yakin bahwa kesia-siaan dalam berkata-kata pastilah akan mengundang setan dan niscaya pula akan menyeretnya ke dalam jurang neraka Saqar (Q.S. Mudatstsir: 45).

“Tidaklah seseorang itu mendapatkan kesempurnaan hakikat keimanan,” demikian sabda Rasulullah, “sehingga suka meninggalkan berbantah-bantahan sekalipun ia merasa di pihak yang benar.” (H.R. Ibnu Abiddunya).

Walhasil, marilah kita tata lisan yang cuma satu-satunya ini. Percayalah, diam itu emas. Orang yang sanggup memelihara lisannya akan lebih kuat wibawanya daripada orang yang gemar menghambur-hamburkan kata-kata, tetapi kosong makna. Berusahalah senantiasa agar kata-kata yang kita ucapkan benar-benar bersih dari penambahan-penambahan dan rekayasa yang tiada artinya. Ukurlah selalu, di mana, kapan, dan dengan siapa kita berbicara agar setiap kata yang terucap benar-benar bermutu dan tinggi maknanya.

Mudah-mudahan Allah Yang Maha Menyaksikan segala-gala senantiasa menolong kita agar selalu sadar bahwa rahasia kekuatan lisan yang bisa menggugah dan mengubah orang lain itu, berawal dari hati yang tulus ikhlas. Tidak rindu apa pun dari yang kita katakan, kecuali rindu kemuliaan bagi yang mendengarkannya, rindu demi senantiasa mulia dan tegaknya agama Allah, serta rindu agar segala yang kita ucapkan menjadi ladang amal saleh untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Insya Allah! Wallahualam.***

Lepaskan Diri dari Cinta Dunia Maret 3, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
1 comment so far

Lepaskan Diri dari Cinta Dunia

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar “

Akan datang masa di mana kamu diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkuk.” Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulallah?” Rasulullah bersabda, “Tidak, bahkan saat itu jumlahmu sangat banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kamu tertimpa penyakit ‘wahn’.” Sahabat bertanya, “Apakah penyakit ‘wahn’ itu ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Penyakit ‘wahn’ itu adalah terlalu cinta dunia dan takut mati.” Rasulullah yang mulia adalah contoh seorang pemimpin yang sangat dicintai umatnya; seorang suami yang menjadi kebanggaan keluarganya; pengusaha yang dititipi dunia tapi tak diperbudak oleh dunia karena beliau adalah orang yang sangat terpelihara hatinya dari silaunya dunia. Tidak ada cinta terhadap dunia kecuali cinta terhadap Allah. Kalaupun ada cinta pada dunia, hakikatnya itu adalah cinta karena Allah. Inilah salah satu rahasia sukses Rasulullah. Apa yang dimaksud dengan dunia? Firman-Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan… Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadiid [57]:20) Dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah. Misalnya, salat, saum atau sedekah, tetap dikatakan urusan dunia jika niatnya ingin dipuji makhluk hingga hati lalai terhadap Allah. Sebaliknya, orang yang sibuk siang malam mencari uang untuk didistribusikan kepada yang memerlukan atau untuk kemaslahatan umat — bukan untuk kepentingan pribadi — bukan untuk kepentingan pribadi terhadap Allah, walau aktivitasnya seolah duniawi. Artinya, segala sesuatu yang membuat kita taat kepada Allah, maka hal itu bukanlah urusan dunia. Bagaimana ciri orang yang cinta dunia? Jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah atau capek memikirkan yang tak ada. Makin cinta pada dunia, makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya. Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar ke pangkat atau kedudukan, maka ia akan takut pangkat atau kedudukannya diambil. Oleh sebab itu, pencinta dunia itu tidak pernah merasa bahagia. Rasulullah yang mulia, walau dunia lekat dan mudah baginya, tetapi semua itu tidak pernah sampai mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan. Beliau juga pernah menyedekahkan kambing satu lembah. Inilah yang membuat beliau tak pernah terpikir untuk berbuat aniaya. Semua yang ada di langit dan di bumi titipan Allah semata. Kita tidak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia hanya mampir sebentar saja. Terlahir sebagai bayi, membesar sebentar, semakin tua, dan akhirnya mati. Kemudian terlahir manusia berikutnya, begitu seterusnya. Bagi orang-orang yang telah sampai pada keyakinan bahwa semuanya titipan Allah dan total milik-Nya, ia tidak akan pernah sombong, minder, iri ataupun dengki. Sebaliknya, ia akan selalu siap titipannya diambil oleh Pemiliknya, karena segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini tidak ada artinya. Harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak akan ada artinya jika tidak digunakan di jalan Allah. Hal yang berarti dalam hidup ini hanyalah amal-amal kita. Oleh sebab itu, jangan pernah keberadaan atau tiadanya “dunia” ini meracuni hati kita. Jika memiliki harta dunia, jangan sampai sombong, dan jika tidak adanya pun, tidak perlu minder. Kita harus meyakini bahwa siapa pun yang tidak pernah berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, maka akan sengsara hidupnya. Mengapa? Sumber segala fitnah dan kesalahan adalah ketika seseorang begitu mencintai dunia. Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmatnya hidup yang tak terbelenggu oleh dunia. Wallahu a’lam.

Bercermin di Telaga Teguran Maret 3, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment
Oleh: Muhammad Nuh
“Tolonglah saudaramu, baik dia zhalim atau dizhalimi. Apabila dia zhalim, cegahlah. Bila ia dizhalimi, menangkanlah.” (HR. Al-Bukhari)

Maha Suci Allah yang menciptakan alam ini begitu sempurna. Malam dan siang silih berganti melayani hidup manusia. Terang dan gelap pun menjadi sebuah kebutuhan makhluk-Nya di seluruh bumi. Tapi, tidak semua yang gelap boleh dibiarkan apa adanya.

Anggaplah teguran sebagai hadiah rabbaniyah

Tidak ada dosa dan kesalahan yang tanpa balasan. Semua akan dibalas oleh Allah swt., dalam kehidupan ini atau di akhirat kelak. Bayangkan jika dosa dan kesalahan bergulir tanpa terasa. Tanpa ada teguran, tanpa ada peringatan.

Menggunungnya dosa dan kesalahan bahkan bisa menyumbat semua cahaya kesadaran. Orang-orang seperti ini bukan hanya tidak menemukan pintu kesadaran, justru ia merasa kalau dirinya tergolong yang dapat petunjuk. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. [QS. Al-A’raf (7): 30]

Allah swt. selalu sayang pada hamba-hamba-Nya. Berbeda dengan orang kafir yang terus mendapat uluran peluang sehingga terus bermaksiat, orang mukmin tidak begitu. Sedikit bengkok, selalu ada teguran. Ada teguran langsung berupa musibah, ada teguran tidak langsung yang disuarakan melalui mulut manusia.

Allah swt. bahkan mencirikan mereka yang saling menegur sebagai generasi yang selamat dari bencana kerugian: dunia dan akhirat. Maha Agung Allah swt. dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [QS. Al-Ashr (103): 1-3]

Anggaplah teguran sebagai ungkapan sayang

Kadang sulit menerjemahkan sebuah ungkapan dengan timbangan yang jernih dan lurus. Termasuk dalam soal teguran. Sederhananya, orang yang menegur diterjemahkan sebagai lawan yang menyusahkan, bahkan menjatuhkan.

Dalam timbangan akhlak, nilai sebuah teguran jauh dari terjemahan itu. Bahkan bertolak belakang. Teguran bukan untuk menyusahkan, melainkan memudahkan. Teguran bukan ungkapan marah, apalagi permusuhan. Melainkan, justru ungkapan sayang dan persaudaraan.

Rasulullah saw. yang mulia mengatakan, “Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan).” (HR. Adailami)

Teguran adalah ungkapan sayang yang sejati seorang saudara terhadap saudaranya yang terjebak dalam kesalahan. Cinta karena Allah, dan benci pun karena Allah. Kalau bukan karena cinta, mungkin ia tak akan pernah menegur. Karena upaya itu begitu berat.

Anggaplah teguran sebagai guru lapangan

Teguran tidak selalu berhubungan dengan dosa. Tidak selalu berhubungan dengan sesuatu yang prinsip. Ada teguran yang memang sangat diperlukan ketika sebuah wilayah teoritis dibumikan dalam wilayah aplikatif.

Dalam hal berumahtangga misalnya. Ketika belum memasuki pernikahan, seseorang merasa sudah paham betul dengan yang namanya berumahtangga. Itu ia dapat dari buku, ceramah, dan sebagainya. Tapi, ketika berumahtangga menjadi sebuah kenyataan, semua menjadi berbeda. Realita kadang tidak selalu mengikuti idealita.

Terjadi kegamangan di situ. Ada konflik suami isteri. Sesuatu yang dalam teori begitu indah, ternyata begitu gersang dalam kenyataan di lapangan. Tentu, yang salah bukan idelitanya. Tapi, cara bagaimana menggapai idealita itu yang belum pas. Di sinilah, seseorang membutuhkan teguran. Dan teguran saat itu menjadi guru di lapangan realita.

Anggaplah teguran sebagai cermin memperindah diri

Ego manusia selalu mengatakan kalau ia serba sempurna. Tidak ada cacat. Tidak ada noda. Semua bagus. Kalau ada orang yang menilai lain, pasti si penilai yang teranggap salah.

Begitu pun yang mungkin terjadi dalam diri seorang mukmin. Dengan penuh percaya diri, ia yakini kalau semua langkahnya sempurna. Tidak ada yang salah. Yang salah adalah jika ada yang menganggapnya salah.

Dalam sudut pandang Islam, manusia adalah tempat salah dan lupa. Jadi, akan ada saja kemungkinan kalau seorang mukmin pun bisa khilaf. Kalau seorang ulama pun bisa salah. Kalau seorang pemimpin pun bisa kepeleset. Saat itu, ia butuh teguran sebagai cermin yang bisa menyadarkan.

Rasulullah saw. mengatakan, “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya.” (HR. Al-Bukhari)

Efek Waktu & Kehebatan Bahasa Arab Januari 25, 2008

Posted by sukarnofaza in Arab.
5 comments

Topik 53: Efek Waktu & Kehebatan Bahasa Arab

Bismillahirrahmanirrahim.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Sebelum lanjut ke topik Latihan surat-surat pendek yang lain, kita istirahat sejenak dengan melihat apa bedanya antara bahasa kita dengan bahasa Arab. Saya hanya sekedar sharing pengalaman belajar bahasa Arab dalam beberapa bulan ini.

Ternyata semakin dipelajari, semakin kita yakin mengapa bahasa Arab itu dipilih sebagai bahasa Al-Quran. Oh… ya, frekuensi penulisan mungkin agak berkurang, karena kesibukan saya saat ini didalam beberapa project.

Oke… baiklah. Apa sih hebatnya bahasa Arab? Tanpa banyak teori, mari kita lihat saja contoh berikut. Saya akan buat dua kalimat dalam bahasa Arab, yang jika kita terjemahkan kedalam bahasa kita, terjemahannya persis sama.

يا أيها المؤمنون – yaa ayyuha almu’minuun : hai orang-orang beriman
يا أيها الذين آمن – yaa ayyuha alladzina aamanu : hai orang-orang beriman

Keduanya diterjemahkan sama dalam bahasa kita. Ya, bahasa kita tidak bisa menangkap beda keduanya. Padahal dalam bahasa Arabnya, kedua kalimat diatas ada bedanya.

Kalimat pertama, kata al-mu’minuun, artinya orang-orang yang beriman. Kapan berimannya? Ya tidak dijelaskan, bisa kemaren, bisa sekarang, dll. Sedangkan dalam kalimat kedua, kata-kata alladzina aamanu, artinya juga “orang-orang beriman” tetapi ini sifatnya orang tersebut saat ini sudah beriman, dan dia mulai berimannya di masa lalu. Dalam bahasa Arab, kata aamanu disebut fi’il madhy (KKL).

Ahli bahasa Arab, menggolongkan kalimat yang mengandung KKL itu hampir identik dengan kalimat sempurna dalam bahasa Inggris (Past Perfect Tense, atau Present Perfect Tense). Artinya kata kerja tsb telah sempurna selesai dikerjakan. Biar gak bingung saya kasih padanan bahasa Inggrissnya:

يا أيها المؤمنون – yaa ayyuha almu’minuun : O, believers
يا أيها الذين آمن – yaa ayyuha alladzina aamanu : O, people who have believed (atau O, people who had believe)

Nah terlihat bedanya kan. Pada kalimat pertama, kata-katanya netral saja, tidak ada keterangan waktu. Sedangkan pada kalimat kedua, kata kerja “percaya” itu telah selesai dengan sempurna (perfect tense).

Lalu apa pointnya Mas? Oke… yang ingin saya sampaikan adalah bahwa, penerjemahan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, terkadang menyebabkan beberapa keterangan tambahan dalam bahasa Aslinya menjadi hilang dalam bahasa kita. Lihat dua kalimat diatas. Dua-duanya diterjemahkan menjadi kalimat yang persis sama dalam bahasa Indonesia. Ya, memang begitu. Tidak ada satu bahasapun didunia ini yang bisa diterjemahkan yang kompatibel 100%, pasti ada makna yang hilang atau berubah. Ini salah satu yang menjadi alasan, kenapa ada ulama yang tidak membolehkan Quran ditafsirkan. Dimana dikuatirkan, jika orang sudah tidak lagi membaca text asli (arabnya), dan hanya mengandalkan bahasa terjemahan, maka jelas maksud asli ayat bisa-bisa salah atau kurang lengkap bisa ditangkap oleh pembacanya.

Itu satu hal, kelemahan bahasa kita.

Lalu mungkin Anda akan berkata, hmm dalam bahasa Inggris ada padanan yang lebih kompatibel. Kalau begitu apa kelebihan bahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris?

Oke saya akan kasih contoh mengenai ini.

Salah satu kelebihan bahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris, antara lain, bahwa bahasa Arab tersusun dengan aturan yang sangat rigid (kokoh) sekali. Ibarat batu-bata yang tersusun rapi, ikatannya kuat sekali. Kalau satu bata hilang, kita masih bisa mereka bata yang hilang itu seperti apa. Satu kata dalam kalimat, saling terkait aturannya dengan kata yang sesudahnya dan kata yang sebelumnya. Saya pakai istilah forward correlation dan backward correlation. Ingat topik sebelumnya mengenai kaana, yang merafa’kan mubtada dan men-nashabkan khobar. Dengan pola misalkan spt ini:

AAA XXX YYY.

AAA adalah Kaana كان, maka dia mempengaruhi kata XXX dan YYY (mempengaruhi dua kata sekaligus). Dalam bahasa Inggris, sebetulnya kita temukan juga. Misalkan kata have/has.

I have spoken.

Kata have mempengaruhi kata speak, yang berubah menjadi spoken. Tapi kata have hanya mempengaruhi satu kata saja. Sedangkan dalam bahasa Arab bisa 2 kata sekaligus.

Dalam bahasa Indonesia,,, hehe… boro-boro… Kata spt ini (kata yang mempengaruhi kata lain) tidak ada ditemukan.

Contoh lain. Dalam bahasa Arab, kata depan (preposisi) atau disebut Huruf Jar, mempengaruhi kata setelahnya. Dalam bahasa Inggris tidak.

Rumah: بيت – baitun = a house

Dalam rumah: في بيتٍ : fii baitin
Dalam rumah : in a house

Lihat dalam bahasa Arab, kata asli baitun, begitu mendapat kata depan (didalam, fii) berubah jadi baitin. Dalam bahasa Inggris, tidak demikian, house tetap saja house (bukan menjadi housi atau housen), sehingga dibaca “in a house”, bukan “in a housen” layaknya bahasa Arab.

Apa manfaatnya ini? Kalau kita bayangkan, kata في – fi cetakannya agak buram, yang jelas hanya بيتٍ – baitin, maka kita tahu, pastilah kata yang hilang, atau cetakannya kurang jelas itu jenisnya kata depan, karena rumah disitu tertulis baitin (bukan baitun). Artinya korelasi dan sifat saling terkait antara satu kata dengan kata lainnya dalam bahasa Arab sangatlah massif (kokoh). Ini yang menyebabkan, tidak sembarangan bisa mengubah-ubah kalimat-kalimat dalam Al-Quran. Diganti satu kata (misalkan niatnya memalsukan), maka bagi yang mengerti kaidah tata bahasa Arab akan segera tahu, bahwa ada keanehan. Dibuang satu kata saja, akan terlihat jelas, sangking kokohnya keterkaitan antara satu kata dengan kata lainnya dalam bahasa Arab.

Masih banyak lagi contoh-contoh tentang ini. Seperti huruf LAM nahi-jenis لا , yaitu LAM yang diikuti kata benda (isim) yang bersifat umum dengan harokat akhir fathah (bukan fathatain), maka pasti ada prediket (khobar) yang kadang dibuang. Contohnya:

No doubt (tidak ada keraguan), dalam bahasa Arabnya: لا ريب – Laa raiba.

Kata Laa dan Raiba saling massif (kokoh) keterkaitannya, dimana dalam hukum LAM Nahi Jenis ini mengatakan bahwa ada prediket yang dibuang, yaitu maujuudun, sehingga makna dari Laa Raiba itu adalah

Laa Raiba Maujudun = Tidak ada keraguan (yang wujud)

Atau

No doubt (that exists).

Kata-kata “that exist” itu sudah otomatis saja ada dalam pengertian bahasa Arab. Sehingga kata yang singkat Laa Raiba, tapi pengertiannya utuh. Beda dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, kata “tidak ada keraguan”, keraguan apa? Atau, keraguan seperti apa? Ini belumlah jelas.

Kehebatan ke tiga.

Menurut saya kehebatan ke tiga bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa Inggris dan (apalagi) dengan bahasa kita adalah: bahwa bahasa Arab, ringkas tapi maknanya komplit. Mengapa? Ambil contoh kasus kata kerja dalam bahasa Arab. Ajaib, kata kerja dalam bahasa Arab sudah tercakup pelaku di dalammnya.

Contoh: قرأت – qora’tu (satu kata)

Dalam bahasa Indonesia = Saya telah membaca (tiga kata)
Dalam bahasa Inggris = I have read (tiga kata)

Contoh lain: سأقرأ – sa-aqra-u (satu kata)

Dalam bahasa Indonesia = Saya akan membaca (tiga kata)
Dalam bahasa Inggris = I will read (tiga kata)

Apa hebatnya? Lihat contoh-contoh diatas. Dalam bahasa Arab, satu kata kerja sudah melekat dua keterangan tambahan langsung:
- siapa yang melakukan
- kapan dilakukan

Bayangkan alangkah ringkas dan kompaknya bahasa Arab. Cukup dengan satu kata mengandung makna yang lengkap. Jelaslah buku terjemahan bahasa Arab ke bahasa Inggris atau bahasa Indonesia biasanya akan jauh lebih tebal.

Dan masih banyak lagi bedanya, dimana dengan mengkaji perbedaan-perbedaan tersebut, kita bisa tambah yakin, bahwa dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh bahasa Arab, tepat sekali bahasa ini dipilihkan sebagai bahasa kitab Firman Allah yang terakhir (Al-Quran). Last but not least, bahasa Arab itu lebih mudah untuk dihafal. Karena susunannya bisa dibuat berima atau bersajak, maka kalimat-kalimatnya mudah untuk dihafal. Ingat kembali topik lalu, kata-kata bahasa Arab, kadang disusun dengan akar kata yang sama, tapi mendapat tambahan huruf sehingga artinya berbeda, tapi masih ada kaitan. Seperti janna (tertutup), majnun = orang gila (tertutup akalnya), jannah = syurga (tertutup dari orang kafir) , junnah = benteng (tertutup dari musuh), dsb. Keterkaitan itu membuat kosa-katanya lebih mudah untuk dihafal.

Seperti telah disebutkan juga di topik lalu, contoh kata ra’a : melihat, maka mar’ah = wanita (tempat jatuhnya (tertujunya) penglihatan), dsb. Juga bahasa Arab ada wazan-wazan (timbangan, pola, atau pattern) yang jika hafal akan lebih lebih memudahkan lagi untuk menghafalnya. Seperti, kataba = menulis, maktab = meja (tempat menulis), kaatib = penulis/pengarang (orang yang menulis), dll.

Allah SWT, berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? Al-Qomar 17,22,32,40

Perhatikan kata-kata li-dzikri, diterjemahkan sebagai untuk pelajaran. Dzikri dari akar kata dzakara, arti asalnya mengingat. Sehingga bisa dikatakan, telah dimudahkan Al-Quran itu untuk diingat.

Allah SWT akan menjaga keaslian Al-Quran itu, dengan cara dia mudah untuk dihafal. Tidak ada satupun buku didunia ini yang mampu dihafal oleh orang ribuan, bahkan jutaan orang, yang panjang pendeknya, titik komanya, bisa dihafal, tanpa salah sedikitpun. Subhanallah, wal-hamdulillah, waLLAHu Akbar.

Cukuplah kematian sebagai nasehat Januari 12, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment

7/1/2008 | 28 Dzulhijjah 1428 H | Hits: 687
Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat
Oleh: Muhammad Nuh
Email This Post

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.

Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

Aku tetap bertahan dalam keimanan Januari 12, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment

10/1/2008 | 01 Muharram 1429 H | Hits: 191
Aku Tetap Bertahan Dalam Keimanan
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
Email This Post

dakwatuna.com – Hari itu kami berkumpul di Masjid Al Hikmah New York. Di antara rangkaian acara, selain pengajian ada acara khusus syukuran salah seorang anak muda Indonesia yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Oswego University New York. Anak muda itu sangat sederhana. Orang-orang memanggilnya Adit. Nama lengkapnya Aditiya Perdana Kurniadi.

Dalam sambutannya yang sangat mengesankan, anak muda itu menyatakan bahwa keberhasilan yang ia capai bukan karena kehebatan yang ia memiliki. Ia berkata: “Aku bukan seorang yang cerdas, juga bukan seorang manusia luar biasa. Banyak kelemahan yang aku miliki. Aku sering kali lupa hafalan. Otakku tidak sanggup merekam data-data ilmu yang begitu banyak. Tapi aku tahu bahwa aku sangat lemah. Karenanya aku berkerja keras. Siang dan malam aku belajar. Aku kurangi jatah tidurku”.

“Bukan hanya itu” katanya lebih lanjut, dan ini yang sangat membuat banyak orang kagum padanya saat itu. “Aku yakin bahwa segala kehebatan hanyalah milik Allah. Karenanya aku tidak hanya bekerja keras. Tengah malam aku bangun. Aku basahi wajahku dengan air wudhu. Sebelum aku belajar aku tegakkan shalat tahajjud. Aku mohon kepada Allah agar segala kelemahanku dilengkapi. Aku yakin bahwa Allah pasti mendengar rintihanku. Aku yakin bahwa Allah menyaksikan tetesan air mataku”. Pernyataan ini adalah ungkapan jujur yang harus kita renungkan. Bayangkan seorang anak muda yang hidup di tengah masyarakat non muslim, masih saja bisa bertahan dengan ketaatannya kepada Allah.

Adit memang contoh anak muda muslim yang istiqamah. Ia tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan yang selalu menggoda untuk berbuat maksiat. Pergaulan bebas apapun, yang dikenal dengan boyfriend atau girlfriend bagi adit tetap merupakan perbuatan dosa. Adit sangat menjauhi sikap-sikap semacam itu. Bagi Adit mentaati Allah tetap di atas segalanya. “ Aku benar-benar sendirian sebagai seorang muslim di tempat aku belajar” kata Adit selanjutnya. “Tidak ada seorang muslim pun yang aku kenal di situ. Pun juga aku benar-benar sendirian di college tersebut sebagai orang Indonesia. Tadinya akut takut tidak mampu. Aku takut terpengaruh. Aku takut imanku hilang. Aku takut akhlakku rusak. Tetapi, alhamdulillah aku bisa tamat dengan selamat”.

Pernah Adit menegakkan sholat di sebuah tempat kuliahnya. Kawan-kawannya memandang anih. Mereka berkerumun mengitarinya. “Tetapi aku tetap sholat dengan tenang” kata Adit, sambil mengusap air matanya. “Aku tidak mau terpengaruh dengan ejekan mereka. Aku lebih takut kepada Allah dari pada ejekan mereka. Biar pun mereka merendahkanku, yang penting Allah memulyakanku. Bagiku iman tetap prinsip yang harus aku pertahankan. Tidak perduli aku dibenci atau di pandang aneh. Yang penting aku tetap bertahan dalam keimanan”.

Adit adalah contoh bagi siapapun yang mengaku beriman kepada Allah. Contoh keteguhan jiwa dalam mempertahankan prinsip. Contoh kesungguhan mentaati Allah, menegakkan sholat pada waktunya sekalipun dalam kondisi yang sangat berat penuh dengan tantangan.

Perhatikan, berapa banyak anak-anak muda muslim yang tidak bisa bertahan seperti Adit. Mereka jatuh satu persatu ke dalam pergaulan bebas. Mabuk-mabukan menjadi kebiasaan yang selalu mereka lakukan. Padahal mereka hidup di tengah masyarakat muslim. Adzan setiap hari mereka dengar. Masjid tegak di mana-mana. Tetapi mengapa pemandangan yang indah itu tidak bisa menyentuh hati mereka. Mengapa mereka justru belajar berbuat dosa, sementara orang-orang Islam yang dikepung dosa-dosa berusaha keluar dari kepungan itu. Apakah mereka tidak tahu bahwa dosa itu jalan kecelakaan? Di manakah iman yang selama ini selalu diucapkan dalam lisan? Apakah cukup seseorang hanya dengan berkata “aku muslim” lalu meminta garansi ahli surga? Apakah para orang tua muslim cukup hanya dengan melahirkan lalu setelah itu anak-anak mereka dibiarkan bergelimang dosa? Berapa banyak orang tua muslim yang cuek terhadap kebejatan moral anak-anaknya?

Di Amerika aku menyaksikan para orang tua sangat rindu agar anaknya belajar agama. Sesibuk apapun mereka masih menyempatkan diri untuk mengajarkan anak-anak mereka membaca Al Qur’an. Tidak sedikit dari mereka yang selalu datang berlomba menghadiri pengajian. Dan di saat yang sama anak-anak muda mereka diikutkan dalam acara khusus “youth program”. Acara untuk pembinaan iman dan akhlak bagi ana-anak muda muslim. Mereka sangat khawatir kalau kelak anak-anak mereka rusak akidah dan akhlaknya. Mereka merasa jijik melihat orang-orang di sekitar mereka yang membuka aurat dan bergaul tanpa batas. Mereka sangat takut, jangan sampai anak-anak mereka berbuat hal yang sama. Ini sungguh pelajaran yang sangat mahal, bahwa setiap kemaksiatan pasti mencekik fitrah manusia. Bahwa siapapun yang kembali kepada panggilan fitrahnya pasti akan menjauhi dosa-dosa, sekalipun ia hidup dalam lingkungan yang penuh kemaksiatan. Wallahu a’lam bishshawab.

Quantum Ikhlas Januari 4, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
4 comments

Quantum Ikhlas®

Pendahuluan

ERA BARU TRANSFORMASI DIRI

Siapa mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya.

Muhammad SAW

Mencari Kebahagiaan Hakiki

Saya sangat berbahagia bisa memenuhi permintaan dari sekian banyak sahabat

yang menginginkan saya menulis. Mereka senantiasa mendorong saya untuk segera

melakukannya. Buku ini merupakan buku pertama dari Seri Teknologi Quantum

Ikhlas®. Memang belum cukup menggambarkan pergumulan panjang saya selama

hampir 20 tahun mengembara ke dalam diri untuk mencoba menemukan arti

“kesempurnaan” dalam hidup ini.

Sejak kecil saya merasa bahwa di balik semua hiruk-pikuk kegiatan manusia di

dunia ini sebenarnya ada satu hal yang dicari oleh manusia. Jika kita dapatkan maka

kita seperti mendapatkan seluruh isi dunia, tetapi bila tidak memilikinya, meskipun

kita mungkin memiliki “segalanya” kita seperti tidak memiliki apa-apa.

Ya, kebahagiaan adalah yang sebenarnya kita cari. Kebahagiaan hakiki, sejati

yang tak tergoyahkan. Bukan sekadar kesenangan atau kenyamanan-kenyamanan

hidup semata.

Kebahagiaan adalah subjek primordial. Itulah sebagian yang akan diulas dalam

buku ini, bagaimana mencari kebahagiaan secara praktis, seperti yang tertuang dalam

kebijaksanaan nenek moyang, tuntunan agama, maupun penjelasan ilmiah.

Kebahagiaan itu merupakan sifat dasar-alamiah atau fitrah manusia dan karena

itu sewajarnya bisa—dengan mudah—kita raih.

Buku ini akan memandu Anda untuk mendapat ke-ngeh-an, sehingga Anda

dengan lega bisa mengatakan “Ooo… begitu….”, dan begitu terjadi internal-shift

pergeseran posisi pandang di dalam, hidup Anda otomatis berubah di luar. Hal-hal

yang bersifat spiritual seperti itu, biasanya memang tidak mudah untuk dijelaskan,

dan dengan bantuan teknologi gelombang otak DigitalPrayer® Alphamatic buku ini

akan menjelaskannya sesederhana dan serasional mungkin untuk Anda.

Bahasan buku ini diarahkan untuk bisa memahami mengapa sikap ikhlas sangat

diperlukan dalam hidup ini, dan yang terpenting bagaimana mengenali rasa-nya dan

cara-cara (how-to) mencapainya. Sebagian orang menafsirkan ikhlas secara salah.

Komponen ikhlas yang terdiri dari sikap syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia,

justru dianggap sikap yang lemah. Sikap itu dikhawatirkan akan membuat mereka

kurang dihargai orang, tidak tercukupi secara materi, atau tidak tercapainya tujuan

hidup karena tidak adanya ambisi. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Dalam

kondisi ikhlas—yang sekarang telah dibuktikan secara ilmiah—manusia justru akan

menjadi sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Kita bisa berpikir lebih jernih, mampu

menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan. Bahkan

hubungan kita dengan siapa pun akan terjalin semakin menyenangkan.

Mencari Metode Ikhlas

Sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar saya memiliki suatu obsesi untuk

memahami makna keutamaan sifat ikhlas dalam mencapai kebahagiaan hidup.

Lambat-laun obsesi itu berubah menjadi doa yang isinya kira-kira: “Ya Allah, setelah

saya mengetahui keutamaan “Ikhlas” secara teoritis, saya memohon agar diberi

petunjuk bagaimana cara mengamalkannya secara praktis”. Yang saya harapkan dari

doa saya itu adalah suatu ‘how-to’, suatu prosedur mental, atau inner-protocols yang

mudah diaplikasikan bukan lagi penjelasan konseptual atau dogmatis belaka.

Alhamdulillah, pertanyaan yang saya lakukan dengan intens itu membuahkan hasil

dan melalui buku ini saya ingin membagikan kepada masyarakat luas.

Karena sifatnya yang teknologi, maka saya hanya menjelaskan mengapa dan

bagaimana hanya dengan ikhlas manusia memang otomatis akan menjadi lebih tenang,

bahagia dan sukses dalam hidupnya. Seperti semua teknologi, Quantum Ikhlas® pun

bersifat otomatis. Anda tidak perlu mempercayainya untuk memperoleh manfaatnya.

Seperti Anda tidak perlu percaya pada teknologi handphone ketika Anda akan mengirim

sms: cukup lakukan prosedurnya dengan benar dan klik send.

Bayangkanlah bagaimana rasanya jika Anda bisa 100% meyakini tuntunan ikhlas

bukan karena terpaksa harus meyakininya, tetapi karena hasil dari proses keikhlasan

hidup yang mewujud nyata dalam keseharian Anda. Dimana Anda yakin bahwa ketika

Anda sudah berikhlas dengan ‘prosedur’ yang benar, maka Anda semakin dekat

dengan Tuhan sehingga niat-niat Anda pun menjadi jauh lebih mudah untuk diraih.

Dan Anda juga tahu bahwa jika Anda masih belum mendapatkan yang Anda inginkan

berarti Anda hanya perlu menyempurnakan lagi prosedur keikhlasan di dalam pikiran

dan hati Anda.

Transformasi Proses Pengembangan Diri: Power vs Force

Setelah hampir 20 tahun menggeluti, menerapkan dan mengamati proses

pengembangan diri yang ada di dunia, saat ini saya merasa umat manusia sedang

memasuki masa transisi global besar yang menuntut pemberdayaan potensi

kemanusiaan yang lebih besar lagi. Kita memerlukan sebuah metode penggalian

potensi diri yang lebih progresif revolusioner yang lebih mampu menghadapi

tantangan zaman ini. Untuk itu kita perlu berani mengakses berbagai potensi

kemungkinan terjadinya lompatan kuantum dalam bidang pengembangan diri.

Banyak temuan baru dibidang genetika perilaku dan neurobilologi, seperti

diungkap oleh Dean Hamer dalam bukunya “Gen Tuhan” menunjukkan bahwa setiap

manusia sudah diwarisi dalam dirinya kecenderungan yang membuat otaknya haus

sekaligus siap menerima tuntunan “kekuatan yang lebih tinggi”. Kekuatan Tuhan Yang

Maha Kuasa.

Karena itu saya merasa sudah saatnya kita menggeser fokus pengembangan diri

dari proses yang berbasis pikiran dan kinerja otak menuju proses yang lebih

berbasiskan perasaan dan kinerja jantung. Sebuah proses pengembangan diri yang

menggabungkan kekuatan sains dan motivasi ketuhanan (spiritual). Karena kita sudah

melihat bagaimana proses pengembangan diri yang melambungkan ego manusia dan

telah berhasil menciptakan berbagai kenyaman hidup, hanya berhasil sedikit dalam

memberi sumbangsih untuk kebahagiaan hidup. Kita sering melihat semakin sukses

seseorang semakin jauh rasanya dia dengan kebahagiaan yang dia cari, bagai menggali

sumur tanpa dasar untuk menyegarkan dahaganya yang tak terpuaskan. Sejengkal

kesuksesan yang berhasil diraih manusia harus dibayar oleh semakin lebarnya jurang

permusuhan dan penderitaan yang menganga diantara sesama.

Kita memerlukan perubahan bukan saja paradigma, melainkan trasnformasi

kuantum. Kita memerlukan proses pengembangan diri yang mampu menghasilkan

manusia digital secara nyata. Yang bisa merubah manusia sampai ke tingkat sel DNA

nya. Suatu proses yang mampu menggabungkan kekuatan IQ-EQ-SQ secara cerdas,

imiah dan efektif. In real and proven actions! With real and tangible results!

Proses pergeseran paradigma atau transformasi kuantum di bidang

pengembangan potensi diri seperti itu lah yang akan kita ekplorasi dalam buku ini:

Transformasi Kuantum di bidang Pengembangan Diri

Suatu proses yang akan menuntun kita berangsur meninggalkan masa dominasi

Positive Thinking untuk memasuki era kolaborasi Positive Feeling. Dan menyempurnakan

proses pencapaian sukses individu maupun korporat dari metode Goal Setting yang

terasa berat di kepala menuju era Goal Praying yang lebih mengena di hati.

Dimana jika proses positive thinking dan goal setting biasanya hanya bertumpu

mengandalkan kekuatan diri sendiri yang berupa Force untuk meraih future sukses di

masa depan. Proses Positive Feeling dan Goal Praying justru secara komprehensif dan

integratif mengandalkan kekuatan diri sendiri dan Tuhan yang berupa Power untuk

menciptakan sukses kehidupan saat ini juga. NOW!

Transformasi Kuantum dari Force menuju Power

Teknologi Quantum Ikhlas®

Untuk mencapai hasil itu kita memerlukan bantuan teknologi (how-to) yang saya

beri nama Quantum Ikhlas®. Teknologi kuantum adalah aplikasi praktis ilmu

pengetahuan kuantum untuk memudahkan urusan manusia di tingkat kuantum. Ikhlas

adalah kompetensi (skill) penyerahan diri total kepada Tuhan untuk meraih puncak

sukses dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Teknologi Quantum Ikhlas® secara

kuantitatif dan kualitatif mengukur, melatih, dan meningkatkan tingkat keikhlasan

dari dasar hati. Untuk mencapai zona ikhlas dan mengakses kekuatan dahsyat Hati

Nurani menuju kejayaan yang seimbang.

Quantum Ikhlas® adalah sebuah metode sukses paripurna yang dengan sejuk

memadukan kekuatan budaya timur dan barat. Kekuatan ilmu pengetahuan terkini

seperti neuroscience, quantum physics, evolutionary biology, chaos theory, brain science dan

science of the mind, dengan tuntunan bijak falsafah hidup dan keagamaan. Yang

membuat proses pencapaian kesuksesan menjadi lebih sederhana sekaligus

menenteramkan.

Quantum Ikhlas® melahirkan aplikasi teknologi pengembangan diri

DigitalPrayer® untuk penerapan:

1. Brainwave Management® yang membantu seseorang memiliki gelombang otak

khusyuk, fokus, kreatif, enersi positif dan intuitif secara cepat. Yang menjadi

syarat mutlak untuk semua hipnoterapi, meditasi dan akses otomatis menuju

kekuatan bawah sadar. Yang akan menjadi pokok bahasan buku ini.

2. Heartwave Management® untuk membongkar akar terdalam dari nafsu yang

tak terpuaskan, keinginan untuk menang sendiri serta ketakutan dan

kepalsuan hati. Yang, insya Allah akan dibahas dalam buku seri Teknologi

Quantum Ikhlas® selanjutnya.

Aplikasi audio brainwave DigitalPrayer® yang dikemas dalam bentuk compact disc

dirancang khusus untuk bisa “mengatur” gelombang otak seseorang ke kondisi otak

yang lebih ikhlas. Jika digunakan dengan tepat, teknologi ini akan mempercepat

peningkatan kesadaran dan membuat proses pengembangan diri serta perjalanan

spiritual seseorang menjadi lebih mudah dan rasional.

Penerapan teknologi praktis ini akan membawa Anda pada kejayaan manusia

seperti: Kesuksesan karir, bisnis, dan keuangan. Kesehatan tubuh. Keharmonisan

kehidupan rumah tangga, ketenangan pikiran, ketenteraman jiwa, kekhusyukan

beribadah dan perolehan bimbingan Sang Pencipta dalam meraih keseimbangan lahir

dan batin.

Aplikasi teknologi ini juga akan membuat kita semakin paham bahwa seringkali

apa yang kita sebut keajaiban (baca: kemudahan dari Tuhan) hanyalah sesuatu yang

belum kita pahami karena keterbatasan pikiran tentang hal yang bersifat non-materi.

Karena untuk memahami kemudahan hidup kita tidak saja butuh rasio pikiran yang

cenderung rumit melainkan juga hati yang memiliki logika tersendiri yang lembut.

Dengan cara itu barulah otak kita bisa menerima dan memahami. Perasaan kita juga

akan semakin mantap dan tahu betul mengapa kita harus mendirikan shalat atau

beribadah dan berdoa memohon bantuan Tuhan. Mengapa kita harus melakukannya

dengan khusyuk, dan mengukur sejauh mana kita khusyuk. Juga mengapa agama

selalu menuntun kita agar menjadi orang yang ikhlas, rela, sabar, dan bersyukur untuk

meraih cita-cita tertinggi di dunia dan akhirat.

Dan yang terpenting, semua itu tidak hanya untuk kita pahami sebatas

pengetahuan saja melainkan untuk kita nikmati sebagai sebuah realitas hidup seharihari

secara nyata.

Selamat memanfaatkan teknologi Quantum Ikhlas® dan alamilah kembali fitrah

kesempurnaan Anda!

Salam ikhlas,

Erbe Sentanu

Taman Surgawi, 12 Desember 2006

http://www.quantumikhlas.com

KEMATIAN HATI Januari 4, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment

KEMATIAN HATI

Oleh: KH. Rahmat Abdullah

 Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. 

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

  

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim mal-nya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

  

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat?” Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan.”

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi muslim hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf (melenceng) di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?”

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

(Hidup ini hanya sekali, maka janganlah disia-siakan. Mari kita kembali kepada niat yang baik Insya Alloh akan mendapatkan yang baik pula…)

Lebaran Oktober 18, 2007

Posted by sukarnofaza in biasa.
comments closed

Selamat Hari Raya  Idul Fitri 1428H.

Mohon maaf lahir dan batin.

sukarno&keluarga 

Selamat menunaikan ibadah ramadhan September 27, 2007

Posted by sukarnofaza in biasa.
add a comment

Saudaraku,

Selamat menunaikan ibadah puasa…..

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kita pada bulan ramadhan ini. Dan sekarang sudah memasuki sepuluh hari kedua tepatnya pada hari ke 14 ini.

Tentu ini adalah semata-mata nikmat dari Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang. Kita masih diberikan kesempatan untuk menuai pahala berlipat ganda pada bulan mulia ini. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan ini. Mungkin ini adalah ramadhan terakhir bagi kita. Karena tidak ada jaminan bahwa tahun depan kita akan bertemu dengan ramadhan lagi.

Saudaraku….

Semoga Allah memberikan kesehatan, kelapangan waktu dan rizki kepada kita, sehingga kita bisa melaksanakan ibadah ramadhan ini secara optimal. Dan pada akhirnya nanti semoga kita bisa meraih predikat mutaqin dari Allah SWT.

Selamat berjuang…tetap semangat…

Marhaban Ya Ramadhan Agustus 27, 2007

Posted by sukarnofaza in biasa.
comments closed

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.

Saudaraku…

Tidak terasa sebentar lagi Ramadhan akan menyapa kita,
Sudah siapkah kita menyambut kedatangan bulan yang barokah ini???

Semoga Allah SWT memberikan umur yang panjang kepada kita, sehingga kita bisa bertemu dengan bulan ramadhan tahun ini. Bulan yang kita rindukan keberkahan dan keagungannya.

Saudaraku…

Mari kita persiapkan diri kita untuk menghadapi bulan ramadhan tahun ini.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (QS.Al Baqarah : 183)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling taqwa”. (QS. Al Hujurat : 13)

Predikat taqwa ini tidak mudah diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan ini dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN
Minimal ada 3 hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu :

1. Persiapan Ruh dan Jasad
Dengan cara mengkondisikan diri agar pada bulan Sya’ban kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat, dan tubuh sudah terlatih berpuasa. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia in dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak phisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti : lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.

Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunah pada bulan Sya’ban ini dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif. ‘Aisyah RA berkata : “Rasulullah SAW berpuasa, sampai-sampai kita mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan bahwa : “Beliau melakukan puasa sunah bulan Sya’ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadits shahih diriwayatkan ulama hadits, lihat Riyadhush Shalihin, Fathul Bari, Sunan At Tirmidzi dan lain-lain). Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. Katanya : “Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini ? Beliau menjawab : “Itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah SWT Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa”. (HR.An Nasai).

2. Persiapan Harta
Bulan Ramadan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega. Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah SAW kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RA : “Sungguh, Rasulullah SAW saat bertemu dengan malaikat jibril, lebih derma dari angin yang dilepaskan”. (HR. Muttafaqun ’alaih). Santunan dan sikap ini sudha barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

3. Persipan Fikriyah(Ilmu)

Agar ibadah ramadhan bisa kita laksanakan dengan optimal, maka harus mempunyai ilmu ramadhan, maksudnya adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ibadah ramadhan. Seperti fikih puasa, fikih tarawih, fikih itikaf, fikih zakat, dan lain-lain sebagainya. Karena amal tanpa ilmu akan sia-sia.

Selamat menyongsong datangnya bulan ramadhan ayng mulia.

Wassalam
Sukarno

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.