jump to navigation

Kapan Saatnya Kita Bicara Maret 3, 2008

Posted by sukarnofaza in biasa.
trackback

Kapan Saatnya Kita Bicara

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Ketahuilah, sebelum berkata-kata, sesungguhnya kata-kata itu tawanan kita. Akan tetapi, sesudah terlontar dari lisan, justru kitalah yang ditawan oleh kata-kata sendiri. Buktinya, betapa banyak orang yang sengsara, menanggung malu, terbebani batinnya, bahkan membuat nyawanya melayang gara-gara kata-kata salah ucap, yang keluar dari mulutnya sendiri. Begitu banyak contoh nyata dalam kejadian kesehari-hari yang bisa membuktikan semua ini.

Mungkin suatu ketika kita baca di koran berita tentang beberapa pelajar SMA yang terlibat pergaulan bebas dengan sesama teman sebayanya. Biasanya mulut ini begitu gatal untuk segera berkomentar, “Mereka sebenarnya adalah korban-korban dari ketidak becusan para orang tuanya dalam mendidik anak-anaknya sendiri.” Atau, kadang-kadang ketika berkumpul bersama teman-teman, tidak bisa tidak, kita sering dengan sadar dan bahkan dinikmati, terjebak dalam perbuatan ghibah, mengumbar-umbar aib dan keburukan orang lain, teman, atau bahkan beberapa sikap dan perilaku orang tua sendiri yang dalam penilaian hawa nafsu kita, tidak kita sukai.

Nah, bila kita acap atau kerap kali senang menggelincirkan lisan ini ke dalam perbuatan-perbuatan demikian, maka pertanyaan yang harus segera diajukan terhadap diri sendiri adalah, mestikah saya berbicara? Haruskah saya mengomentari masalah ini? Mengapa saya harus ikut-ikutan memberikan penilaian, padahal kita sendiri mungkin tidak tahu permasalahan yang sebenarnya?

Subhanallah! Siapa pun yang ingin memiliki lisan yang bermutu serta kata-kata yang mengandung kekuatan dahsyat untuk mengubah orang lain menjadi lebih baik, satu hal yang harus direnungkan, yakni bahwa kekuatan terbesar dari kata-kata kita adalah harus membuat orang senantiasa mendapatkan manfaat dari apa pun yang kita ucapkan.

Kalau hanya sekadar berbicara, padahal kita sendiri tidak tahu akan membawa manfaat atau tidak maka sebaiknya diam saja. “Falyaqul khairan aw liyaskut,” demikian sabda Rasulullah saw. Hendaklah berkata yang baik atau diam! Berkata itu bagus dan boleh-boleh saja, namun diam itu jauh lebih bagus kalau toh kata-kata yang kita ucapkan akan tidak membawa manfaat.

Kalaupun kita memandang perlu untuk berkata-kata, maka sebaiknya berikan yang terbaik kepada orang yang mendengarkannya kata-kata yang paling indah, paling tulus, paling bersih dari segala niat dan motivasi yang tidak lurus.

Sungguh, Allah Azza wa Jalla adalah Zat Maha Pembolak-balik hati manusia. Sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk membalikkan hati manusia seketika, sehingga orang pun mungkin akan menyadari kesehari-hariannya sekiranya ia berbuat keliru. Dan yang akan jauh lebih mengesankan lagi adalah bila kata-kata yang kita ucapkan menjadi jalan turunnya hidayah dan taufik-Nya ke dalam hati orang lain. Masya Allah, Dia pasti tidak akan pernah lalai untuk mencatat pahala yang teramat luar biasa bagi kita, tanpa mengurangi pahala yang diberikan-Nya kepada orang tersebut.

Karenanya, usahakanlah kata-kata yang keluar dari lisan ini kita kemas sedemikian rupa, sehingga membawa manfaat dan maslahat baik bagi diri sendiri maupun bagi jalan hidup serta tumbuhnya motivasi, kehendak, ataupun tekad seseorang.

Hanya empat hal dari kata-kata yang paling tinggi nilai dan mutunya, yang seyogianya keluar dari lisan kita. Pertama, ketika mendapat karunia nikmat, suruhlah lisan ini banyak bersyukur kepada Allah. Kedua, ketika ditimpa musibah, segera suruh mulut ini bersabar dengan mengucap inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun. Ketiga, ketika mendapat taufik dari Allah berupa kemamapuan beribadah yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan orang lain, suruh bunyi pula, yakini bahwa semua kemampuan ibadah kita adalah semata-mata berkat karunia dari Allah Azza wa Jalla. Terakhir, ketika kita tergelincir berbuat dosa, lekas-lekas suruh lisan ini beristigfar memohon ampunan kepada Allah. Dan selebihnya adalah sikap hati-hati setiap kali lisan kita hendak berkata-kata.

Hendaknya kita tidak membiarkan mulut ini sembarang berbunyi. Daripada berakibat sengsara, lebih baik menahan diri. Sebab, jangankan menyampaikan nasihat, bukankah untuk bertanya saja dalam ajaran Islam demikian tinggi adabnya.

Misalnya, terhadap seseorang yang kita tahu suka melaksanakan saum sunnah, kita bertanya, “Mas, Anda sedang saum?” Padahal di sekelilingnya sedang banyak orang. Ini kan pertanyaan yang berat. Betapa tidak? Kalau orang tersebut menjawab, “Ya, saya saum,” hatinya mungkin bisa tergores-gores karena kekhawatirannya berbuat riya. Kalau ia menjawab tidak saum, berarti dusta dan itu dosa sekaligus bisa menghilangkan pahala saum-nya. Kalau memilih diam saja, bisa-bisa dianggap sombong. Demikian pula kalau hendak berdiplomasi saja, maka minimal ia akan kerepotan untuk mencari kata-kata yang tepat. Ini berarti pertanyaan kita membebani batin orang dan sekaligus mubazir.

Ada seorang wanita yang bertubuh gemuk, kita tanya, “Berat badan Mbak berapa kilo?” Ah, buat apa bertanya semacam ini, karena pasti akan membebani perasaannya?

Atau, mendapati seorang teman yang orang tuanya ditimpa musibah bercerai, padahal teman tersebut sangat menutup-nutupinya, eh kita malah menanyainya, “Oh, sudah bercerai ya? Kapan bercerainya? Mengapa bercerai?” Untuk apa pertanyaan ini? Ini kata-kata yang mempersulit orang lain kendatipun kenyataannya memang demikian.

Oleh sebab itu, tidak heran kalau para ulama dan orang-orang yang saleh serta berkedudukan di sisi Allah, sangat hemat dengan kata-kata. Kendatipun, mungkin ilmunya sangat luas, pemahamannya begitu dalam dan jembar, hafal seluruh surat Alquran dan ribuan hadis Nabi, telah menyusun berpuluh-puluh kitab yang monumental, ibadahnya begitu dahsyat, sementara akhlaknya pun demikian cemerlang.

Semua itu karena mereka sangat yakin bahwa kesia-siaan dalam berkata-kata pastilah akan mengundang setan dan niscaya pula akan menyeretnya ke dalam jurang neraka Saqar (Q.S. Mudatstsir: 45).

“Tidaklah seseorang itu mendapatkan kesempurnaan hakikat keimanan,” demikian sabda Rasulullah, “sehingga suka meninggalkan berbantah-bantahan sekalipun ia merasa di pihak yang benar.” (H.R. Ibnu Abiddunya).

Walhasil, marilah kita tata lisan yang cuma satu-satunya ini. Percayalah, diam itu emas. Orang yang sanggup memelihara lisannya akan lebih kuat wibawanya daripada orang yang gemar menghambur-hamburkan kata-kata, tetapi kosong makna. Berusahalah senantiasa agar kata-kata yang kita ucapkan benar-benar bersih dari penambahan-penambahan dan rekayasa yang tiada artinya. Ukurlah selalu, di mana, kapan, dan dengan siapa kita berbicara agar setiap kata yang terucap benar-benar bermutu dan tinggi maknanya.

Mudah-mudahan Allah Yang Maha Menyaksikan segala-gala senantiasa menolong kita agar selalu sadar bahwa rahasia kekuatan lisan yang bisa menggugah dan mengubah orang lain itu, berawal dari hati yang tulus ikhlas. Tidak rindu apa pun dari yang kita katakan, kecuali rindu kemuliaan bagi yang mendengarkannya, rindu demi senantiasa mulia dan tegaknya agama Allah, serta rindu agar segala yang kita ucapkan menjadi ladang amal saleh untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Insya Allah! Wallahualam.***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: